Fantasista dan Alasan Barcelona Lebih Baik Tanpa Neymar


Johann Van Galen, pelatih timnas Japan Youth All-Stars, mengadakan sesi triangle game pada penentuan 22 pemain yang hendak disiapkan untuk turnamen J-Cup yang diikuti Jepang, Meksiko, Italia dan Korea Selatan. Di akhir seleksi yang diikuti 33 pemain itu, ia membuat tiga tim untuk menyisihkan 11 pemain. Hanya dua kesebelasan yang paling banyak mencetak gol yang nantinya dibawa ke Italia, area diselenggarakannya J-Cup.

Yang jadi kejutan, bonus deposit 100% member baru mengatakan Van Galen memasang Kaoru Okita, pemain yang senantiasa mendapatkan nilai paling atas sejak pemain seleksi diisi oleh 43 pemain, dengan pemain-pemain yang kebanyakan mendapatkan nilai rendah. Teppei Sakamoto, yang lebih dari satu kali mendapatkan teguran berasal dari Van Galen, bahkan mendapatkan minus 1,5 poin, justru ditempatkan dengan para pemain paling baik dalam skuat tersebut.

Di akhir pertandingan, tim yang diisi Okita kalah. Van Galen tak menampik bahwa tersedia unsur kesengajaan yang membuat Okita, pemain paling berteknik di skuat tersebut, meniti pertandingan lebih sulit (karena rekan setimnya tidak diisi oleh pemain-pemain terbaik) hingga selanjutnya tersingkir. Alasan pelatih asal Belanda berikut menyisihkan Okita adalah karena, fantasista wa pitch ni futari wa iranai, yang bermakna “Sebuah tim tidak membutuhkan dua fantasista di lapangan”.

Bersama Ernesto Valverde, Barcelona disebut-sebut tampil jauh lebih baik berasal dari lebih dari satu musim sebelumnya, lebih-lebih berasal dari musim 2016/2017 disaat Barca ditangani Luis Enrique. Situasi ini lumayan mengejutkan. Pertama, Valverde singgah sebagai mantan pelatih Athletic Bilbao yang prestasi terbaiknya juara Piala Super Spanyol sekali dan jadi runner-up Copa del Rey sekali. Prestasi menterengnya terjadi di Liga Yunani dengan tiga trofi domestik. Kedua, musim ini Barca ditinggalkan tidak benar satu pemain terbaiknya, Neymar jr. ke Paris Saint-Germain. Apalagi pemain penggantinya, Ousmane Dembele, langsung cedera panjang di awal musim.

Kehilangan Neymar inilah yang aku soroti membuat Barca mempunyai tampilan lebih baik. Untuk menakar sejauh mana permainan impresif Barcelona, kami bisa mendengar komentar Lionel Messi yang merasa timnya tampil lebih baik dengan Valverde yang mengfungsikan formasi dasar 4-4-2.

“Pelatih telah mengetahui mengatakan sejak awal perihal apa yang ia inginkan. Kami membuat kami sendiri kuat dalam bertahan dan selagi menyerang kami mempunyai pemain dengan mutu tinggi,” kata Lionel Messi pada Februari 2018. “Tanpa Neymar kami jadi lebih seimbang. Kepergiannya membuat kami merubah cara bermain. Kami kehilangan banyak potensi di lini depan namun kami meningkat di lini pertahanan. Kami lebih sesuai dan skema ini membuat kami jauh lebih solid.”

Messi secara gamblang mengatakan keuntungan berasal dari kepergian Neymar adalah membuat timnya jadi solid dalam bertahan. Melihat statistik di La Liga, yang dikatakan Messi di atas sesuai fakta. Saat artikel ini ditulis (La Liga tinggal tersisa tiga laga) Barca yang telah memastikan gelar juara cuma kebobolan 23 kali berasal dari 35 laga. Mereka terhitung mencatatkan 18 kali nirbobol. Musim selanjutnya Barca yang cuma mendapatkan gelar juara Copa del Rey kebobolan 37 kali di La Liga. Nirbobol `hanya` 13 kali.

Maka barangkali inilah yang dimaksud Van Galen pada Fantasista bahwa sebuah tim tidak membutuhkan dua fantasista. Cerita pada manga “Fantasista” di awal tulisan inilah yang ulang menyeruak pada permukaan ingatan disaat aku membaca komentar-komentar pemain dan para pengamat La Liga tentang tampilan Barcelona musim ini.

Messi dan Neymar adalah dua pemain yang layak disebut fantasista. Fantasista ini bukan peran bahkan posisi dalam sebuah formasi. Fantasista adalah istilah Bahasa Italia untuk pemain yang mempunyai mutu individu mumpuni dan olah bolanya bisa membuat pemirsa berdecak kagum.

Fantasista sama dengan nomor punggung 10 di masa 90-an, layaknya Roberto Baggio, Alessandro Del Piero, Francesco Totti, Diego Maradona hingga Pele di masa lalu. Akan namun tersedia terhitung pemain-pemain yang dijuluki fantasista namun tidak mengenakan nomor 10, layaknya Andrea Pirlo (21), Johan Cruyff (14), Franz Beckenbauer (5), Alvaro Recoba (20), Zinedine Zidane (21), Ricardo Kaka (22), bahkan hingga yang terkini yakni Cristiano Ronaldo (7).

Lionel Messi dan Neymar pun terhitung kategori pemain yang layak disebut sebagai fantasista. Penampilan individu keduanya bisa pilih hasil akhir pertandingan dan membuat pemirsa terpusat perhatiannya pada mereka. Nah, munculnya Neymar sebagai fantasista baru di sepakbola selagi ini tak terlepas berasal dari penampilannya dengan Barca.

Saat awal bergabung Barca pada 2013, Neymar masih berada dalam bayang-bayang Messi. Ia cuma mencetak 9 gol dan 10 asis di La Liga (total 15 gol di segala ajang). Satu musim berikutnya, Neymar merasa terbiasa atmosfer sepakbola Eropa. Ia pun mencatatkan 22 gol dan 9 asis di La Liga. Walaupun begitu catatan berikut masih membuatnya berada di bawah Messi yang keseluruhan mencetak 58 gol dalam satu musim.

Write your comment Here